%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%>
Kamu punya pengalaman menarik dalam hidup kamu? Kenapa tidak diceritakan saja? Aku ingin berbagi cerita dengan kalian. Jadi kepada siapapun yang mau bercerita tentang hidupnya, silahkan kirim ceritamu ke [email protected] Bagi 3 pengirim pertama, maka kisahnya akan ditampilkan di situs ini. Buruan kirim!
Beranjak besar sedikit, Haryadi pun sudah duduk di bangku SD. Namun itu baru kelas satu SD. Teman baru kembali diperolehnya, hingga pada suatu hari ia memutuskan untuk bersahabat dengan Dayat seorang teman laki-lakinya yang memang terbilang anak baik. Tak lama ia menduduki bangku kelas dua SD, ayahnya kembali dipindahkan ke luar negeri. Dan ternyata nasibnya masih sama yaitu ke benua Eropa. Namun kali ini sang ayah ditugaskan untuk berkerja di Brussels, Belgia. Sebelum berpindah ke Belgia, Haryadi dan sang kakak sempat mempelajari bahasa Perancis melalui kursus selama 2 bulan saja. Alhasil, iapun belum begitu lancar berbahasa Perancis ketika tiba di Belgia. 2 minggu setelah tiba di kota Brussels, Haryadi dan sang kakak mulai masuk sekolah kembali. Pada waktu itu sang kakak duduk di bangku kelas 5 SD sedangkan Haryadi masih duduk di bangku kelas 2 SD. Karena ketidakfasihannya dalam berbahasa Perancis, maka Haryadi dan kakanya terpaksa tinggal kelas 1 tahun. Namun usaha mereka pada tahun berikutnya tidak sia-sia, sejak saat itu mereka menjadi fasih berbahasa Perancis. Bahkan nilai pelajaran bahasa Perancisnya pun bisa lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa anak lokal.
Setelah 4 tahun bertugas di sana, sang ayah kembali harus pulang ke Indonesia. Sewaktu ayahnya harus pulang, Haryadi baru duduk di kelas 5 SD. Ia harus pulang berdua dengan ayahnya pada bulan Januari 2002, yaitu bulan pertama berlakuknya mata uang Euro bagi negara-negara anggota Uni Eropa. Perasaan Haryadi saat itu agak kesal, karena ia sudah menabung setahun lamanya, agar dapat ditukarkan ke Euro. Tetapi ternyata usahanya tidak begitu berguna. Hingga tiba harinya keberangkatan ke Indonesia, Haryadi hanya pulang bersama sang ayah dan anak tetanggnya yang sempat kost di rumah Haryadi di sana untuk melakukan studi Piano. Namun mengapa hanya bertiga saja? Kemana sang ibu dan sang kakak? Mereka berdua masih harus tinggal di sana. Karena sang kakak menolak ikut pulang bersama sang ayah. Menurutnya bulan Januari adalah bulan yang sangat tanggung sebelum menyelesaikan sekolah tingkat 2 SMP-nya itu. Jadi pada akhirnya sang kakak dan sang ibu terpaksa mencari rumah sewaan baru.
Tak lama setelah kepulangan sang ayah, sang ibu mulai khawatir dengan satusnya di sana. Sekarang statusnya sudah tidak medapat izin untuk tinggal di sana. Begitu juga dengan sang kakak. Ahkirnya 3 bulan kemudian, mereka berdua pulang dengan hati lega. Padahal sang kakak masih ingin terus melanjutkan sekolahnya di sana. Setibanya di Indonesia sang kakak tidak langsung masuk sekolah, tetapi selama waktu kosongnya itu, ia mengikuti les bahasa Jerman. Beberapa bulan kemudian sang kakak sudah masuk ke SMPN 2 Bogor di kelas 3. Sedangkan Haryadi masih duduk di kelas 6 SD. Keduanya sama-sama ditunggu oleh Ujian Akhir Nasional (UAN) . Tapi sayangnya nasib mereka berdua tidak sama. Sang kakak lulus dengan nilai yang lebih memuaskan dibandingkan dengan sang adik. Alhasil sang kakak dapat diterima di SMAN kelas atas, sedangkan sang adik hanya mampu diterima di SMPN kelas bawah.
Bersambung ke halaman 3...