%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%>
Kamu punya pengalaman menarik dalam hidup kamu? Kenapa tidak diceritakan saja? Aku ingin berbagi cerita dengan kalian. Jadi kepada siapapun yang mau bercerita tentang hidupnya, silahkan kirim ceritamu ke [email protected] Bagi 3 pengirim pertama, maka kisahnya akan ditampilkan di situs ini. Buruan kirim!
Di kelas 1 SMP, sang adik harus beradaptasi dengan lingkungan yang begitu 'mewah' (mepet ke sawah-red) alias sekolah yang terletak di tengah-tengah pedesaan. Maklum karena letaknya yang berada di tengah-tengah pedesaan di pinggiran kota Bogor, jadi kebiasaan untuk menjaga kebersihan serta kedisiplinannya tidak lekat. Namun pada masa-masa adaptasi Haryadi, tidak berjalan mulus. Banyak sekali teman-teman yang mengolok-oloknya dengan berbagai sebutan. Bahkan semenjak itu, Haryadi jadi sering berkelahi dengan temannya. Meskipun demikian perkelahiannya tidak sampai menimbulkan sesuatu yang begitu parah. Setelah 1/2 tahun lebih Haryadi bersekolah di sana, sang ayah kembali mendapatkan tugas untuk bekerja di Singapura. Tapi sewaktu mendapat kabar tersebut, waktu untuk berpindahnya kembali 'tanggung'. Kabar tersebut baru diterima sang ayah pada bulan Mei 2004. Sehingga sang ayah menyarankan agar Haryadi tinggal dulu sebulan bersama tantenya dan kakaknya yang tidak mau ikut pindah dikarenakan 'repot' menurutnya. Dan waktunya memang benar-benar tanggung, sebulan lagi sudah ujian. Ya sudah akhirnya saran tersebut bisa dimengerti juga oleh Haryadi.
Kurang 2 hari sebelum ujian berlangsung, kebetulan waktu itu sedang jam istirahat. "Siapa yang mau duit 500, mesti loncatin tumpukan bangku itu" teriak seorang teman Haryadi yang sangat nakal. Entah kenapa Haryadi mau-mau saja meloncati tumpukan bangku yang cukup tinggi itu. Pertama kali mencoba belum berlaku taruhan uangnya. Namun pada loncatan kedua nasib baik tidak berpihak padanya. Dan tiba-tiba saja "Gubrakss...!" Bunyi keras terdengar. Dan ketika dilihat lagi, ternyata tangan kiri Haryadi patah. Ketika hendak dilarikan ke ruang guru, Haryadi bilang "Ini gak apa-apa kok. Cuma sakit sedikit." Padahal pada saat itu rasanya sudah sangat sakit. Tangan kirinya seketika menjadi berat. Tanpa berpikir panjang, guru-guru yang kebetulan sedan berada di dalam, langsung memanggil tukang urut. Ketika diurut rasanya sakit sekali. Tetapi meskipun aku sudah disuruh menangis oleh beberapa guru, aku tetap tidak bisa menangis. Aku hanya bisa menjerit-jerit saja.
2 hari kemudian dimulailah hariku penuh dengan ketegangan. Karena pada hari itu tibalah harinya Ujian Akhir Sekolah (UAS). Dengan keadaan tangan kiri yang masih belum dioperasi, aku terus mencoba menyelesaikan soal-soal ujian dengan tenang. Selang beberapa hari setelah ujian berakhir, tanteku langsung membawaku ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan, yang dalam hal ini disebut dengan 'rongent'(dibaca ronsen). Dan memang benar, ternyata tanganku patah. Padahal menurut pengakuan si tukang urut, katanya tanganku hanya terkilir. Sebalnya aku, karena kalau sudah diketahui bahwa tanganku patah sejak awal, aku sudah dioperasi lebih dulu. Untungnya seminggu kemudian aku sudah harus berangkat ke Singapura. Begitu tiba di sana, 2 hari kemudiannya aku langsung masuk ke rumah sakit Raflles untuk dioperasi. Aku antara tidak sabar menunggu hasil operasinya dan rasa takut sewaktu disuntik. Apalagi setelah disuntik obat bius aku tidak langsung tertidur. Aku takut kalau saja aku belum tertidur tetapi dokternya tetap saja memulai operasi. Pasti akan sangat sakit rasanya. Satu yang paling aku sukai dari layanan pengobatan di Singapura adalah, dalam soal waktu. Aku masuk jam 5 sore, dioperasi jam 7 malam, besoknya jam 12 siang aku sudah boleh pulang ke rumah.
Sekarang aku sudah tenang karena operasinya pun sudah berakhir. Dan sejak aku tiba di Singapura, bakatku dalam bidang IT mulai muncul. Dengan begitu, nilai-nilaiku menjadi tidak pernah stabil. Terkadang bagus, terkadang pula buruk. Dan sekarang aku sudah duduk di kelas 3 SMP, sebagai alumnus penutup kurikukulum 1994.
Bersambung...
Sekian dulu, kisahku ini akan terus bersambung sampai nanti... Entah kapan. Tapi mudah-mudahan bisa aku lanjutkan.